Skip to Content
Loading...
WhatsApp Admin
WhatsApp Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Selagi Guru Masih Ada, Duduklah di Sisinya


Selagi Guru Masih Ada, Duduklah di Sisinya

Pesawaran — Ada satu nikmat dalam hidup yang sering terasa biasa saja saat masih ada, namun terasa sangat berharga ketika telah tiada: kehadiran seorang guru.

Di tengah dunia yang serba cepat dan instan hari ini, banyak orang merasa cukup belajar dari buku, internet, atau tayangan ceramah. Semua itu baik. Namun ada satu hal yang sering terlupakan—bahwa dalam perjalanan mencari kebenaran dan ketenangan hati, manusia tetap membutuhkan sosok yang membimbing, mengarahkan, dan menuntunnya dengan ketulusan.

Di Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussaadah, nilai ini terus dijaga dan dihidupkan. Ilmu tidak hanya dipahami sebagai kumpulan pengetahuan, tetapi sebagai cahaya yang tumbuh dalam hati—yang hadir melalui keteladanan, kedekatan, dan kebersamaan dengan seorang guru.

Tidak semua orang diberi kesempatan memiliki guru.
Dan tidak semua orang diberi waktu panjang untuk duduk di sisinya.

Karena itu, ketika Allah mempertemukan seseorang dengan guru yang membimbingnya menuju kebaikan, maka itulah salah satu nikmat terbesar dalam hidup—nikmat yang harus dijaga dengan adab, rasa hormat, dan kasih sayang.

Seringkali seseorang baru menyadari hal itu… ketika semuanya telah berlalu.

Baru terasa berharganya nasihat… setelah tak lagi ada yang menasihati dengan penuh ketulusan.
Baru terasa hangatnya kebersamaan… setelah majelis itu menjadi kenangan.

Padahal dahulu, mungkin kita pernah duduk di hadapannya—tanpa benar-benar menghadirkan hati.
Mendengar, namun tidak sepenuhnya menyimak.
Dekat, tetapi tidak benar-benar menghargai.

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama tidak hanya menekankan pentingnya belajar, tetapi juga pentingnya kebersamaan dengan guru, yang dikenal dengan istilah suhbah.

Suhbah bukan sekadar proses belajar biasa.
Ia adalah kedekatan yang melahirkan pengaruh.

Duduk bersama guru, memperhatikan akhlaknya, mendengar nasihatnya dengan hati yang terbuka—semua itu menjadi jalan masuknya adab dan kejernihan jiwa.

Para ulama seperti Imam Abu al-Qasim al-Qushairi menjelaskan bahwa melalui kebersamaan itulah nilai-nilai halus berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Sementara Imam al-Ghazali menegaskan bahwa seorang guru bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing yang mampu menunjukkan kekurangan dan penyakit dalam diri yang sering tidak kita sadari.

Karena itu, generasi terdahulu sangat menjaga adab kepada guru.
Mereka tidak memotong pembicaraan.
Tidak merasa lebih tahu.
Dan tidak bersikap biasa di hadapan orang yang menjadi sebab sampainya ilmu kepada mereka.

Mereka memahami satu hal yang sederhana namun dalam:

Ilmu memberi pemahaman.
Namun guru menghadirkan keberkahan.

Suatu hari nanti, mungkin kita masih membaca buku yang sama.
Masih mengingat kalimat-kalimat nasihat yang pernah kita dengar.

Namun sosok yang dahulu menyampaikannya dengan penuh kesabaran… mungkin sudah tidak lagi bersama kita.

Pada saat itu, barulah terasa:

Setiap nasihatnya adalah mutiara.
Setiap tegurannya adalah rahmat.
Dan setiap momen duduk di sisinya adalah karunia yang tak tergantikan.

Maka selagi guru masih ada…

Luangkan waktu untuk duduk di sisinya.
Dengarkan kata-katanya dengan sungguh-sungguh.
Jaga adab dalam setiap pertemuan.
Dan rawat rasa hormat serta cinta karena Allah.

Sebab dalam perjalanan hidup ini, tidak banyak yang mampu menjaga arah hati kita.
Dan di antara nikmat terbesar yang bisa Allah berikan adalah:
dipertemukan dengan seorang guru yang membimbing, menjaga, dan menuntun langkah kita agar tidak tersesat.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?