- Diposting oleh : Admin pondok
- pada tanggal : Maret 11, 2026
Malam Tafarruq Daarussaadah: Haru, Nasihat, dan Doa Mengiringi Kepulangan Santri
Pesawaran — Malam itu suasana Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussaadah terasa lebih khidmat dari biasanya. Cahaya lampu di aula pondok menerangi wajah-wajah para santri yang duduk rapi, menyimak setiap kalimat yang disampaikan oleh para guru mereka.
Malam tersebut adalah malam tafarruq, malam perpisahan sebelum para santri kembali ke rumah masing-masing untuk menjalani libur Idul Fitri bersama keluarga.
Bagi para santri, malam tafarruq bukan sekadar penutup kegiatan. Malam ini adalah momen untuk menerima nasihat terakhir dari para guru sebelum kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Di hadapan ratusan santri yang hadir, Abuya KH. Edi Maulana, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussaadah, menyampaikan nasihat yang penuh makna.
Dalam nasihatnya, Abuya mengingatkan bahwa liburan bukan berarti libur dari ibadah.
Shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan berbagai kebiasaan baik yang telah dijalani selama di pesantren harus tetap dijaga ketika berada di rumah.
“Santri harus tetap menjadi santri di mana pun berada,” pesan Abuya kepada para santri.
Menurut beliau, pendidikan pesantren tidak hanya terlihat ketika santri berada di dalam lingkungan pondok, tetapi justru akan terlihat ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Di sanalah akhlak dan adab seorang santri akan menjadi cerminan dari pendidikan yang telah mereka terima.
Dalam kesempatan tersebut, Abuya juga menegaskan bahwa inti dari pendidikan pesantren adalah adab.
Ilmu yang tinggi tidak akan membawa keberkahan jika tidak disertai dengan akhlak yang baik.
Akhlak berada di dalam hati, sedangkan adab tampak dalam perilaku sehari-hari. Jika hati seseorang baik, maka perbuatannya pun akan baik.
Karena itu para santri diminta untuk menjaga sikap, menghormati kedua orang tua, serta menunjukkan akhlak yang baik kepada masyarakat.
Selain menjaga adab, para santri juga diingatkan untuk menjaga kehidupan hati.
Hati yang hidup adalah hati yang selalu mengingat Allah. Dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menjaga ibadah merupakan cara untuk menjaga hubungan hati dengan Allah.
Selama hati seorang santri tetap terhubung kepada Allah, maka ia akan tetap berada di jalan yang benar di mana pun ia berada.
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam nasihat tersebut adalah tentang pentingnya menjaga hubungan antara santri dengan guru.
Menurut Abuya, banyak orang yang memiliki kecerdasan luar biasa dan hafalan yang banyak, tetapi tidak semuanya menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah.
Salah satu sebabnya adalah karena hubungan hati antara murid dan guru tidak dijaga.
Sebaliknya, para santri yang menjaga adab kepada guru serta menghormati nasihat-nasihat mereka biasanya akan mendapatkan keberkahan dalam ilmu dan kehidupannya.
“Keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga oleh kuatnya hubungan antara murid dengan gurunya,” ungkap Abuya.
Abuya juga mengingatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak selalu mudah.
Dalam proses menghafal Al-Qur’an maupun mempelajari kitab-kitab, seorang santri sering kali harus berjuang dengan kesabaran.
Hafalan yang sudah didapatkan terkadang terlupa kembali, lalu harus diulang dengan penuh kesungguhan.
Namun semua itu merupakan bagian dari proses pendidikan.
Kesungguhan dan kesabaran dalam menuntut ilmu akan melahirkan generasi yang kuat dalam ilmu dan akhlak.
Selain menjaga hubungan dengan guru, para santri juga diingatkan untuk menjaga ukhuwah dengan sesama santri.
Persaudaraan yang terjalin di pesantren merupakan salah satu nilai yang sangat berharga.
Ikatan tersebut tidak hanya terjalin selama berada di pondok, tetapi juga dapat terus berlanjut hingga masa depan.
Tidak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang di antara para santri akan ada yang menjadi ulama, guru, bahkan pendiri pesantren di berbagai daerah.
Di penghujung acara, Abuya KH. Edi Maulana menyampaikan salam kepada keluarga para santri di rumah.
Beliau juga memohon maaf apabila selama proses pembinaan terdapat teguran atau sikap yang mungkin terasa keras bagi para santri.
Menurut beliau, semua itu merupakan bagian dari proses pendidikan dan bentuk kasih sayang para guru kepada para santri.
Malam tafarruq kemudian ditutup dengan doa bersama.
Para santri menundukkan kepala, memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam perjalanan pulang serta keberkahan dalam liburan yang akan dijalani.
Para guru pun mengiringi kepulangan para santri dengan doa dan harapan.
Semoga ilmu yang telah dipelajari di Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Daarussaadah tidak hanya menjadi hafalan semata, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku dan akhlak para santri.
Karena sejatinya, tujuan pendidikan pesantren bukan hanya melahirkan orang yang berilmu, tetapi juga melahirkan manusia yang beradab, manusia yang dekat dengan Allah, serta manusia yang bermanfaat bagi agama dan umat.

.jpeg)
.jpeg)