- Diposting oleh : daarussaadahpesawaran.com
- pada tanggal : Februari 24, 2026
Ramadan Bersama Al-Qur’an: Kisah Santri Tahfidz di Pondok Pesantren Daarussa'adah Pesawaran Lampung
Ramadan adalah bulan doa, bulan harapan, dan bulan ketika hati para orang tua sering kali teringat pada anak-anak mereka. Bagi para wali santri yang menitipkan putra-putrinya untuk mondok tahfidz, Ramadan menghadirkan rasa rindu yang bercampur dengan keyakinan. Rindu karena berjauhan, namun yakin karena anak sedang berada di tempat terbaik—bersama Al-Qur’an. Di Pondok Pesantren Daarussa’adah, Ramadan menjadi saksi perjalanan ruhani para santri dalam menghafal dan menghidupkan Kalamullah.
Saat sebagian anak seusianya menikmati Ramadan di rumah, para santri tahfidz menjalani hari-hari dengan disiplin dan kesederhanaan. Mereka bangun sebelum fajar, bersiap untuk sahur bersama, lalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an selepas Subuh. Dalam keheningan pagi, suara hafalan terdengar lirih namun penuh keteguhan. Setiap ayat yang diulang bukan sekadar hafalan, melainkan ikhtiar dan doa—doa untuk diri mereka, dan doa yang kelak akan mengalir pahalanya untuk kedua orang tua.
Puasa tidak menyurutkan semangat para santri. Dengan perut yang menahan lapar dan haus, mereka tetap menyetorkan hafalan, muroja’ah dengan sabar, dan memperbaiki bacaan dengan penuh kesungguhan. Ramadan justru mengajarkan mereka arti keikhlasan dan pengorbanan. Dalam setiap rasa lelah, tersimpan pelajaran tentang sabar. Dalam setiap ayat yang dihafal, tumbuh kedekatan dengan Allah SWT.
Malam-malam Ramadan di pesantren terasa berbeda. Setelah tarawih, para santri kembali membuka mushaf, melanjutkan muroja’ah, atau mengikuti qiyamullail. Di saat itulah, banyak dari mereka yang teringat orang tua di rumah. Namun rindu itu mereka ubah menjadi semangat. Mereka percaya, setiap langkah di jalan Al-Qur’an adalah hadiah terbaik yang bisa mereka persembahkan untuk ayah dan ibu.
Bagi para wali santri, mungkin tidak selalu terlihat langsung hasil dari setiap hari yang dijalani anak-anak di pesantren. Namun percayalah, proses itu sedang berjalan. Anak-anak sedang ditempa—bukan hanya hafalannya, tetapi juga jiwanya. Mereka belajar hidup sederhana, disiplin, menghormati guru, dan menjaga adab. Nilai-nilai inilah yang kelak akan menjadi cahaya dalam kehidupan mereka.
Ramadan di Pondok Pesantren Daarussa’adah bukan hanya tentang jadwal dan program, tetapi tentang pembentukan hati. Tentang anak-anak yang sedang belajar mencintai Al-Qur’an dalam sunyi, tentang doa orang tua yang diam-diam mengalir di setiap ayat yang dihafal. Semoga dari pesantren ini lahir generasi Qur’ani yang menjadi penyejuk mata, penolong orang tua di dunia dan akhirat, serta penerang bagi umat.
